Lewat Model ZEP AWDA Sukses Mencetak Lulusan Berwirausaha di SMAN 1 Gedangan
Lewat Model ZEP AWDA Sukses Mencetak Lulusan Berwirausaha di SMAN 1 Gedangan
Sidoarjo, 18 Januari 2026 - SMA merupakan sekolah menengah atas yang lulusannya dirancang untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Rancangan ini tidak selalu mulus bisa masuk perguruan tinggi. Kendala biaya merupakan salah satu alasan lulusan SMA tidak melanjutkan kuliah. Fakta ini dipahami benar oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Dr. Imam Jawahir, M.Pd sehingga muncul ide sebuah program SAPUHA.
“Anak-anak yang sekolah di sini, tidak sedikit yang kemampuan ekonomi orang tuanya lemah sehingga tidak mampu untuk membiayai kuliah anaknya. Hal ini tidak boleh dibiarkan sehingga kami membuat program kewirausahaan bernama SAPUHA, yakni singkatan dari Satu Anak Punya Satu Usaha,’’ urainya.
Menurutnya program ini memberikan kesempatan siswa waktu yang cukup sejak kelas 10 hingga kelas 12 dalam merintis usaha ini.
“Saya melihat bahwa pelatihan kewirausahaan berjudul Berbisnis Modal NOL yang dikembangkan oleh Bapak Sugiarso sangat menarik untuk diimplementasikan di program SAPUHA ini. Hal ini saya cermati dari kegiatan pelatihan ini yang sudah dilaksanakan di berbagai tempat di Jawa Timur menjadi referensi kuat untuk dilaksanakan di SMAN 1 Gedangan ini. Para siswa dilatih memulai bisnis dari nol dengan kegiatan praktek secara langsung di lapangan,” katanya
Praktek Proyek Kewirausahaan Setiap Hari
Pelatihan berjudul Berbisnis Modal Nol (BISMOL) ini merupakan pelatihan untuk para pemuda mulai SMA hingga perguruan tinggi dengan tujuan pokok melahirkan wirausahawan muda melaluu usaha rintisan skala mikro. Pelatihan BISMOL ini telah diselenggarakan selama 8 angkatan.
“Empat kali pelatihan dilaksanakan di STIE Jambatan Bulan, dan Politeknik Kesehatan Jayapura di Mimika, Papua Tengah. Selanjutnya secara berkeliling di Jawa Timur, yakni Universitas Trunojoyo Madura, Universitas NU Sidoarjo, UIN KHAS Jember, dan juga di SMAN 1 Gedangan ini,” terang Sugiarso yang mendapatkan banyak temuan-temuan empirik untuk menguji validitas, praktikalitas, dan efektivitas model Zero Entrepreneurial Project Based Learning.
Menurut mahasiswa program doktor Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya ini, pengangguran para pemuda serta akan datangnya bonus demografi tidak bisa dibiarkan. Menurut data BPS, tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia muda (15–24 tahun) mencapai 16,16% per Februari 2025, yang berarti dari setiap 100 orang muda di angkatan kerja, terdapat sekitar 16 orang yang belum bekerja. Jelas sekali data ini menjadi alasan utama pelatihan model ZEP ini dikembangkan.
“Pelatihan ini merupakan rancangan dengan merujuk ke pelatihan Papuan Bridge Program PT Freeport Indonesia. Pengalaman di PT Freeport saya sarikan dan kembangkan dengan mengembangkan sebuah model pembelajaran dan atau pelatihan dengan nama Zero Entrepreneurial Project Based Learning (ZEP). PZero Entrepreneurial Project Based Learning (ZEP). Pemahaman umum yang salah menjadikan ketiadaan modal uang sebagai kendala utama tidak berwirausaha. Anggapan inilah yang didobrak oleh pelatihan ini. Justru ketiadaan modal uang adalah penyebab utama berwirausaha," urai Koordinator Papuan Bridge Program PT Freeport Infonesia ini.
Pelatihan dilaksanakan pada 12-14 Januari 2026 sejak pagi hingga siang. Para peserta diajak tiga hari berturut-turut praktek proyek kewirausahaan di Pasar Gedangan, sekolah, dan area bisnis sekitar sekolah dan Pasar Gedangan.
Sebanyak 11 peserta memiliki nilai terbaik mampu mendekati target sehingga mendapatkan insentif produk..
Pelaksanaan pelatihan kewirausahaan di SMAN 1 Gedangan ini memiliki keunikan. SAPUHA adalah program kewirausahaannya, Berbisnis Modal NOL adalah judul pelatihannya, dan Zero Entrepreeurial Project Based Learning adalah model pembelajaannya, dan Akselerasi Wirausahawan Muda (AWDA) adalah program perintisan usaha skala mikro untuk para pemuda Indonesia
"Kewajiban kalian setelah menerima produk ini ialah menjualnya setiap hari. Sabtu, Minggi, dan tanggal merah tetap jualan. Uang masuk dibelanjakan lagi. Fokuslah pada mencari untung tidak pada membuat barang. Bisa saja produk yang dijual berbeda dari hari ke hari. Jika konsisten jualan tiap hari, kalian dituntun naluri bisnis yang mulai tumbuh hingga menemukan bisnis yang paling baik," pesan pengembang model pembelajaran Zero Entrepreneurial Project Based Learning (ZEP) ini kepada penerima insentif produk
Salah satu peserta, Naura Arfa Meviya, siswa kelas 10 menyampaikan kesan positifnya. Menurutnya, ada dua hal yang dirasakannya.
"Pelatihan ini telah membantu mengembangkan bakat bisnis saya ke depan berjalan lancar. Kedua, pelatihan ini membantu memasarkan produk laku dengan cepat. Modal awalnya zero kemudian bisa naik berlipat-lipat," urainya.
Dokumentasi Singkat AWDA di SMAN 1 Gedangan