Lewat Model ZEP AWDA Sukses Mencetak Lulusan Berwirausaha di UNUSIDA
Lewat Model ZEP AWDA Sukses Mencetak Lulusan Berwirausaha di UNUSIDA
Sidoarjo, 10 November 2025- Akselerasi Wirausahaan Muda (AWDA) kembali mencetak generasi pebisnis muda lewat Pelatihan Berbisnis Modal Nol (BISMOL) menggunakan Model Zero Entreprenurial Project Based Learning (ZEP). Pelatihan ini merupakan angkatan ke-6 yang diselenggarakan di UNUSIDA pada tanggal 1, 2, 8 dan 9 November 2025.
Sukses di Jember, Model ZEP Kembali Digelar di UNUSIDA dengan Pendekatan Pola 2-2
Setelah sukses diterapkan di UIN KHAS Jember, pelatihan berbisnis modal nol menggunakan model pembelajaran Zero Entrepreneurial Project Based Learning (ZEP) kembali digelar. Kali ini, Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menjadi tuan rumah bagi angkatan keenam pelatihan ini, yang berlangsung selama empat hari pada tanggal 1, 2, 8, dan 9 November 2025.
Validitas Akademis dan Pengalaman Praktis Model ZEP dikembangkan oleh Sugiarso, mahasiswa S3 Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Model ini memiliki landasan yang kuat karena telah lolos uji validitas ahli dan dipresentasikan dalam Seminar Teknologi Pendidikan bertajuk "Edutechnopreneurship Era Smart Society 5.0" pada Oktober 2024. Sugiarso menjelaskan bahwa model ini lahir dari pengalaman praktisnya saat mengelola program Papuan Bridge di Nemangkawi Mining Institute, PT Freeport Indonesia. "Secara praktis di lapangan model ini sudah dijalankan, namun secara akademis sesuai prosedur ilmiah bisa jadi belum sepenuhnya dilakukan," ungkap pendiri AWDA tersebut.
Inovasi Pola Pelatihan 2-2 Berbeda dengan angkatan sebelumnya, pelatihan di UNUSIDA menerapkan inovasi "Pola 2-2", yaitu dua hari pelatihan tatap muka, diikuti jeda satu minggu, dan dilanjutkan kembali dua hari pelatihan. Jadwal sengaja dipilih pada hari libur (Sabtu dan Minggu) untuk menguji komitmen peserta.
Sugiarso menegaskan bahwa jeda waktu seminggu tersebut merupakan ujian kinerja kewirausahaan yang sebenarnya. "Pola ini memberikan waktu kepada peserta untuk menunjukkan kinerjanya. Apakah mereka benar-benar berbisnis, hanya paruh waktu, atau tidak sama sekali. Ini menjadi tolak ukur dalam menentukan peringkat 10 terbaik," jelasnya.
Dukungan Kampus dan Revolusi Mental Pihak UNUSIDA memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Kepala Bagian Konseling dan Pengembangan Karir Mahasiswa, Ganal Arief Rahmawan, S.Psi, M.Si, menekankan pentingnya revolusi mental bagi mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa kunci perubahan adalah keberanian meninggalkan zona nyaman dan beralih dari pola pikir karyawan ke wirausahawan.
Dukungan sistemik juga disampaikan oleh Kepala Biro Kemahasiswaan, Alumni, dan Karir, Fajar Nur Yasin, M.Pd. Ia menjelaskan bahwa keikutsertaan mahasiswa dalam pelatihan empat hari ini akan dikonversi menjadi poin kegiatan kemahasiswaan yang tinggi, yang nantinya menjadi syarat wajib untuk mengikuti yudisium.
Semangat Nahdlatut Tujar Puncak pelatihan pada 8-9 November diisi dengan penyajian laporan penjualan individu selama masa jeda dan penyusunan rencana bisnis. Sesi ini melatih keberanian, kegigihan, dan kreativitas peserta.
Dalam penutupan, Kepala Bagian Kemahasiswaan, Machfudzil Asror, S.Pd.I, M.Pd, membakar semangat peserta dengan mengingatkan sejarah Nahdlatut Tujar (Kebangkitan Saudagar). Ia menegaskan bahwa para pendiri (muassis) NU mencontohkan kemandirian ekonomi. "Kalian harus jadi penerus semangat Nahdlatut Tujar. Dengan harta, kita punya peluang besar untuk menjadi orang yang sukses dan bermanfaat. Kaya lewat berbisnis," pesannya.
Sebagai apresiasi, pelatihan ditutup dengan pemberian insentif produk keripik buah merk "ZEP" dari AWDA kepada tiga peserta terbaik: Feni, Desy, dan Maulida, untuk digunakan sebagai modal merintis bisnis.
Dokumentasi Singkat AWDA di UNUSIDA