Pengangguran. Ya, jumlah penduduk yang banyak namun tidak mempunyai penghasilan, justru menjadi sumber masalah diri dan bangsa. Bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia pada 2030-2040 melahirkan adanya 64% usia produktif (usia 15-64 tahun) dari total penduduk. Angkanya fantastic, yakni diperkirakan 297 juta jiwa. Jika jumlah penduduk yang besar ini banyak penganggurannya, bisa dibayangkan sendiri seperti apa masalah yang bakal terjadi.
Berpenghasilan. Ya, lawan dari pengangguran adalah berpenghasilan. Ada dua pilihan untuk mendapatkan penghasilan, bekerja kepada orang lain dengan menjual jasa tenaga dan keahlian yang disebut dengan karyawan (termasuk ASN, TNI, Polri) dan memperkerjakan diri sendiri atau orang lain untuk mendapatkan penghasilan yang disebut dengan wirausahawan. Tatkala seseorang tidak menjadi karyawan atau wirausahawan, maka orang itu disebut dengan pengangguran. Tidak ada pilihan lain untuk mendapatkan penghasilan kecuali hanya ada dua pilihan saja, yakni menjadi karyawan atau wirausahawan.
BPS mencatat bahwa persentase Pemuda Bekerja dengan Status Berusaha Menurut Status/Kedudukan Dalam Pekerjaan besarnya hanya 18,21%. Sebesar 12,77 persennya berusaha sendiri, sedangkan berusaha dengan dibantu buruh yang dibayar hanya 1,29% (Sumber: BPS, Sakernas 2024; Statistik Pemuda Indonesia Volume 22, 2024). Angka ini menunjukkan kebutuhan dan kesenjangan besar dalam hal kewirausahaan.
Data BPS juga menunjukkan bahwa Pemuda Bekerja Berstatus Berusaha di bidang jasa jumlahnya 75,43% berusaha sendiri tMenurut Status Pekerjaan Utama dan Lapangan Usaha, 2024 (Sumber: BPS Sakernas, 2024; Statistik Pemuda Indonesia Volume 22, 2024). Berdasarkan prediksi yang dilakukan oleh BPS (Badan Pusat Statistik), Indonesia diperkirakan akan mengalami bonus demografi pada kurun 2030-2040. Hal ini berarti bahwa pada kurun waktu tersebut kondisi masyarakat Indonesia akan didominasi oleh usia produktif (usia 15-64 tahun) dibandingkan usia non produktif. BPS memperkirakan ada sekitar 64% usia produktif dari total penduduk yang diperkirakan berjumlah 297 juta jiwa
Hasil penelitian Semeru menunjukkan bahwa pembelajaran kewirausahaan hanya focus ke ketrampilan teknis belum menggunakan pembelajaran berbasis masalah di lapangan. Juga kemampuan berpikir kritis, analitis dan pemecahan masalah belum menjadi model pembelajaran andalan.
Angka-angka dan temuan penelitian terkait metode pembelajaran di atas menjadi peluang besar untuk melakukan pemecahan masalah pembelajaran kewirausahaan yang efektif dan efisien. Selain itu, alasan tidak punya uang, tidak berbakat, tidak telaten, dan takut bangkrut adalah sederet sebab-sebab wirausahawan itu tidak lahir. Inilah yang menjadi alasan pokok hadirnya program Akselerasi Wirausahawan Muda (AWDA) dengan menggunakan model pembelajaran zero entrepreneurial project based learning sebagai ruhnya.