Pelatihan ini merupakan bagian dari inisiatif untuk melakukan gerakan kewirausahaan yang bernama Akselerasi Wirausahawan Muda (AWDA) dengan tool berupa Model ZEP dan Integrated ZEP (IZEP). Apa itu integrated ZEP? Konsep ini merupakan perluasan ZEP dengan cara mengintegrasikan dengan rencana strategis provinsi dan kabupaten (RPJP / RPJM), rencana strategis perguruan tinggi berbasis project based learning (PBL) dan potensi keunggulan lokal provinsi dan kabupaten untuk kesejahteraan ekonomi. Konsep ini bertitik tolak dari peran krusial proses belajar melalui model ZEP.
Temuan penelitian bisa menjadi landasan pijak secara teoritik, praktek, pola, dan konsep dari AWDA. AWDA akan menjadi pusat gerakan untuk semua generasi muda untuk menjadikan Indonesia Emas 2050 dengan modal bonus demografi dan jumlah wirausahawan muda yang melimpah. AWDA dan ZEP berinisitif untuk memulai menjalankan AWDA dari skala kecil, kemudian mengajak mitra-mitra AWDA untuk memulai gerakan IZEP. Dalam IZEP, AWDA dan ZEP memulai dan aktif menjalin komunikasi dan kemitraan dengan pihak kuci, yakni pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat adat dan teknologi, dan komunitas profesi dan pecinta.
Masyarakat adat dan teknologi. Mereka inilah yang memiliki nilai-nilai keunggulan lokal yang penting untuk ditumbuhkembangkan menjadi jejaring keunggulan provinsi. Ia sekaligus menjadi bertitik tolak pembuatan RPJPM. Selain masyarakat, sebenarnya juga ada yang disebut masyarakat teknologi, yakni sekelompok masyarakat yang mempunyai keunggulan teknologi tertentu, baik teknologi manual maupun digital, misalnya masyarakat Desa Paju, Ponorogo yang punya keunggulan teknologi gamelan dari tong bekas. Ada juga masyarakat desa Pare, Kediri dengan Kampung Inggrisnya, masyarakat Adat Baduy, Tengger, Bonokeling, maupun Samin . Keunggulan lokal ini juga mencakup keunggulan sumberdaya alam, manusia, kampung, maupun kearifan lokal. Pemangku kepentingan dari kelompok ini juga dikoordinasikan oleh coordinator terpilih
Komunitas profesi dan pecinta. Mereka ini memiliki keahlian khusus berdasarkan profesi yang digelutinya secara professional serta rasa cinta dan tanggungjawab suatu aktvitas khusus yang memiliki keunikan atau nilai lebih. Beberapa contoh komunitas profesi dan pecinta di antaranya Ikatan Dokter Indoenesia, Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia, Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia, komunitas pecinta hewan, aksara, macapat, buku, alam, rumah, wayang, sumber air, dan lainnya. Pemangku kepentingan jenis ini sesungguhnya memiliki keunikan dan keunggulan yang menjadi pondasi kokoh dalam Menyusun RPJPM provinsi melalui IPBL
Rencana IZEP adalah rencana jaangka Panjang dengan menjadikan AWDA – ZEP sebagai embrionya. Dari ZEP menuju IZEP tentu membutuhkan peta jalan jangka Panjang. Peta jalan (roadmap) penelitian ini merupakan perjalanan yang Panjang selama setidaknya 10 tahun. Berawal dari skala yang mikro menuju makro secara bertahap, terstruktur dn terencana. Peta jalan penelitian ini dalam konteks AWDA sebagai berikut.
a. Tahap I merupakan tahap dalam membangun Landasan. Di tahap ini banyak dilakukan kajian teoritik dan empirik terkait model ZEP model yang dilakukan minimal dalam kurun waktu 1 tahun. Masa ini merupakan masa pembibitan AWDA. Untuk melancarkan dan mendorong pembibitan ini berjalan lancar, maka perlu gerakan perintisan-perintisan di berbagai Lokasi dan konteks. Kajian dilakukan di berbagi kota, kabupaten, sekolah, komunitas dan sebagainya. Tatkala tahap I ini bisa berjalan sesuai harapan, maka telah tersedia bibit-bibit ZEP mellui kajian teoritik dan empiric di berbagai lokasi dan konteks yang berguna sebagai landasan pijak untuk menuju pada tahap selanjutnya.
b. Tahap II merupakan tahap dalam membangun Penguatan. Di tahap ini banyak dilakukan Pelatihan ZEP secara informal dan formal (dalam semua bentuknya) yang dilakukan minimal dalam kurun waktu 2 tahun atau lebih. Masa ini merupakan masa pertumbuhan AWDA. Untuk melancarkan dan mendorong pertumbuhan ini berjalan lancar, maka perlu gerakan perluasan atau ekspansi di berbagai lokasi dan konteks. Pertumuhan ini ditandai semakin meluasnya pelaksanan pelatihan ZEP di berbagai Lokasi, tingkatan, daerah, dan kondisi. Tatkala tahap II ini bisa berjalan sesuai harapan, maka telah tersedia berbagai macam pengalaman dan titik pelatihan ZEP yang informal dan formal di berbagai lokasi dan konteks yang cukup kuat dan kokoh untuk menuju pada tahap selanjutnya
c. Tahap III merupakan tahap dalam membangun Konsolidasi. Di tahap ini dilakukan proses desain dan pengembangan integrated ZEP (IZEP) berbasis RPJM yang dilakukan minimal dalam kurun waktu 4 tahun atau lebih. Masa ini merupakan masa pengembangan AWDA. Untuk melancarkan dan mendorong pertumbuhan ini berjalan lancar, maka perlu gerakan kesepaktan-kesepakan di berbagai lokasi dan konteks dalam rangka membangun sebuah desain dan pengembangan RPJM nya IZEP. Tatkala tahap III ini bisa berjalan sesuai harapan, maka telah tersedia seperangkat desain dan pemgembangan IZEP berbasis RPJM yang telah meninergikan 3 elemen pokok lainnya, yakni perguruan tinggi, masyarakat adat dan teknologi, dan komunitas profesi dan pecinta untuk menuju pada tahap selanjutnya. Cakupannya Desain dan Develop IZEP bebasis RPJM dan penelitiannya selama 1 tahun atau lebih dilakukan secara formal di perguruan tinggi dan sekolah.
d. Tahap IV merupakan tahap dalam membangun Integrasi. Di tahap ini dilakukan implemenasi IZEP RPJM yang sudah dikemabngkan ini dengan menggelar berbagapai pelatihan formal se provinsi di salah satu provinsi percobaab. Kerj aini dilakukan minimal dalam kurun waktu 2 tahun atau lebih. Masa ini merupakan masa Implementasi AWDA Sektoral. Untuk melancarkan dan mendorong pertumbuhan ini berjalan lancar, maka perlu gerakan Akselerasi AWDA sektoral di level perguruan tinggi dan sekolah berbagai lokasi di suatu provinisi. Tatkala tahap IV ini bisa berjalan sesuai harapan, maka telah tersedia model dan bukti teoritik dan empirik IZEP berbasis RPJM yang telah mensinergikan 3 elemen pokok lainnya, yakni perguruan tinggi, masyarakat adat dan teknologi, dan komunitas profesi dan pecinta di provinsi ujicoba. Jika ini bisa berjalan lancer maka bisa menjadi titik tolak dan model menuju pada tahap selanjutnya yang lebih luas.
e. Tahap V merupakan tahap memaksimalkan Manfaat dalam memperkuat Perbaikan Berkelanjutan dan Adaptasi IZEP di level Nasional (bukan lagi provinsi). Di tahap ini dilakukan implemenasi IZEP dengan menggelar berbagai pelatihan formal di berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Kerja ini dilakukan minimal dalam kurun waktu 3 tahun atau lebih. Masa ini merupakan masa Implementasi AWDA secara nasional. Untuk melancarkan dan mendorong pertumbuhan ini berjalan lancar, maka perlu gerakan Akselerasi AWDA secara nasional di level perguruan tinggi dan sekolah berbagai lokasi di semua provinisi. Tatkala tahap V ini bisa berjalan sesuai harapan, maka AWDA telah menjadi sebuah gerakan skala nasional yang membawa perubahan signifikan dalam menaikkan angka kewirausahaan dan kesejahteraan ekonomi. Sinergi pemerintah, perguruan tinggi, masyarakat adat dan teknologi, dan komunitas profesi dan pecinta terus diperkuat dan ditingkatkan diberbagai provinsi di Indnesia. Pada akhirnya AWDA hadir di setiap provinsi atau kota dan kabupaten (cabang) untuk meningkatkan akselerasi AWDA dalam skala nasional